Jangan Malas Membaca





Allah Ta’ala berfirman,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).


Dalam Al-Qur'an ada perintah membaca bahkan disebut berulang di Surat Al 'Alaq. Artinya apa?  Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca supaya kita bisa mengetahui apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.


Lalu, bagaimana dengan budaya membaca di Indonesia?
Sungguh mengenaskan ketika mengetahui hasil survei sebuah perguruan tinggi di Amerika yang menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Luar biasa!
Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 yang menunjukkan sebesar 85,9% masyarakat Indonesia memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3%) dan membaca koran (23,5%). Belum lagi data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012. Data tersebut menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.
Emboh survei-survei ini beneran apa enggak, tapi pada kenyataannya saya melihat sendiri betapa masyarakat Indonesia ini sungguh banyak yang malas membaca.

Apa buktinya?

Saya punya online shop dimana segala sesuatu tentang dagangan saya sudah saya cantumkan sebagai keterangan. Harapan saya, para calon pembeli bisa membaca keterangan yang sudah saya cantumkan tersebut.
Kenyataannya?
Ketika sudah ada keterangan bahwa barang tersebut ready stok, bla..bla..bla..., di kolom komentar ada aja yang masih tanya: 'Ini ready?', 'Ini ada kah?', 'Yang ini stoknya ada?'
atau begini: 'Pembayaran hanya melalui bank A, B, dan C saja'. Kemudian ada aja yang kelakuannya begini: 'rekeningnya yang bank E ya', 'saya minta nomor rekening bank Y', 'saya transfernya ke bank G aja, ada nomornya gak?'
*lha menurut ngana?!* 

Itu baru masalah sepele, cuma baca keterangan doang aja udah males. Gimana baca yang lain yang lebih berbobot?

Kalo liat anak alay jaman sekarang, mereka lebih sering megang hp daripada megang buku. Sebenernya dari hp pun kita bisa 'membaca' tapi sayangnya mereka lebih sering ngepoin artis-artis papan gilesan, chatting sama cem-ceman, nontonin snapchat geje, atau pesbukan buat bully sana-sini. Lebih ngenes lagi kalau mereka suka nonton sinengtron Indonesia yang kualitasnya sungguh embuh, yang ceritanya ngalor ngidul, yang babar blas nggak sesuai norma adat, sopan santun bahkan norma agama yang ada di Indoneisa ini. Astaghfirullah... 

Alhamdulillah saya terlahir dari orang tua yang suka membaca dan saya dididik untuk suka membaca dari kecil. Bapak saya selalu ngajak saya ke toko buku buat beli buku, buku apa aja yang saya pengen pasti dibelikan, berapapun harganya. Nggak heran kalau di rumah, isinya penuh dengan buku. Ada koleksi buku bapak, ibu, saya, dan adik. Lemari buku udah over dosis isinya. Waktu saya kecil, bapak juga mendidik saya supaya nggak sering-sering nonton tv. Alhasil saya sekarang jadi nggak suka nonton tv, bahkan nggak punya tv. hihihi

Kalau saya mau piknik, saya pasti baca-baca dulu info tentang tempat tujuan, bagaimana cara kesana, baca petanya, dan semua keterangan yang berkaitan dengan tempat piknik yang akan saya kunjungi. 
Pernah ada kawan yang heran dengan saya, karena sepanjang perjalanan saya jarang sekali bertanya ke orang lokal, seolah-olah saya sudah pernah kesana sebelumnya. Padahal andalan saya ya hanya banyak membaca termasuk membaca tanda petunjuk arah supaya nggak nyasar.

Begitu pula untuk urusan kehidupan dunia akhirat. Kita sudah semestinya membaca manual book kita sebagai manusia, yaitu Al-Qur'an. Supaya kita tidak tersesat dan terjerumus ke lembah nista. Jangan sampai kita terlena dengan dunia, membaca semua buku-buku yang menurut kita berbobot, entah itu buku sejarah, ekonomi, politik, dsb tapi Al-Qur'an kita malah cuma nangkring di rak buku nggak pernah disentuh. Padahal membaca Al-Qur'an itu banyak pahalanya, pahala dihitung per huruf, per kata, per ayat. 
Dan di Al-Qur'an lah semua ilmu itu ada, yang membedakan yang haq dan yang bathil, yang menuntun kita untuk selalu ada di jalan-Nya selama perjalanan kita di dunia ini menuju kepulangan kita ke akhirat nanti.

Ayo, yang belum bisa membaca Al-Qur'an versi Arab segera belajar, tiada kata terlambat. Yang sudah bisa, jangan lupa membacanya juga mengkaji artinya.

Jangan malas membaca!





Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata, “Seseorang itu akan semakin mulia dengan ilmu diin yang ia miliki. Ilmu itulah yang membedakan bapak manusia, yaitu Adam dengan para malaikat. Ilmu ini terkadang di pikiran. Ilmu juga kadang di lisan. Ilmu juga terkadang di dalam tulisan tangan untuk menyalurkan apa yang dalam pikiran, lisan, maupun yang tergambarkan di pikiran.”

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar :)

NO SPAM! NO SARA!