Hagia Sophia [Turki] - Sebuah Renungan





Lokasi Ayasofya/Hagia Sophia Museum ini berhadapan dengan Blue Mosque, di Ayasofya Meydani kawasan Sultanahmet Istanbul dengan batas sebuah taman dan pedestrian.




Tiket Masuk
: 30 TL

atau bisa juga dengan Museum Pass Istanbul:
  • 3 hari 85 TL, bebas masuk ke:
    • Topkapi Palace & Hareem
    • Hagia Sophia Museum
    • Hagia Irene
    • Istanbul Archaeological Museum
    • Istanbul Mosaic Museum
    • Museum for the History of Science and Technology in Islam
  • 5 hari 115 TL, bebas masuk ke:
    • semua musium di atas
    • Chora Museum
    • Galata Mavlevi House Museum
    • Yildiz Palace
    • Rumeli Hisar Museum
    • Fethiye Museum
Museum Pass Istanbul juga menawarkan diskon dari 10% - 30% di museum-museum private, Bosphorus Tours, toko-toko & cafe yang berada di komplek museum.

(kondisi 9 Maret 2015)

Jadwal buka untuk musim dingin pukul  09.00 - 17.00, terakhir masuk pukul 16.00. Untuk musim panas pukul  09.00 - 19.00, terakhir masuk pukul 18.00.

Info tentang museum ini bisa dilihat di http://ayasofyamuzesi.gov.tr/en


Berikut adalah sebuah renungan yang bagus dari mbak Emeralda

Tak sedikit pelancong yang mengunjungi Ayasofya. Tak sedikit yang harus dibayar sebagai tiket masuk ke sana. Dan tak sedikit pula dari mereka yang hanya membayar untuk menyaksikan bangunan belaka.
Namun seharusnya tidak bagi seorang muslim.
Mengunjungi Hagia Sofia bukanlah sekedar perjalanan melawat sebuah bangunan untuk mengagumi keindahan arsitekturnya semata. Bukan.
Bagi seorang muslim, bangunan ini adalah saksi bisu dari sebuah janji suci yang pernah terucap dari lisan mulia Rasulullah, akan sebuah kabar gembira tentang pembebasan kota yang agung.
Rasulullah pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)
Lebih dari itu, andaikata bangunan ini mampu berbicara kepada segenap kaum muslimin dan seluruh umat dari penjuru dunia yang datang setiap saat melawatnya, mungkin ia akan mengatakan "Aku lah bukti, bahwa lisan Rasul kalian tak pernah keliru, kabar darinya adalah benar, janjinya tak pernah salah." Maka masihkah ada alasan untuk mengikari Allah dan Rasul-Nya?
Oleh karenanya, mengunjunginya bukanlah sekedar menatap romantisme bangunan batu yang tersusun indah. Bukan.
Namun adalah sebuah perenungan akan keyakinan kita sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, masih kah kita menafikkan segala sesuatu yang telah dikabarkan oleh Allah melalui lisan mulia Rasul-Nya?
Sebelum hari kiamat tiba, masih ada kota Roma yang juga telah Rasulullah janjikan kepada umatnya. Masih akan datang kembali kekhilafahan yang menempuh manhaj kenabian, sehingga tegak tegak lah cahaya Islam memancarkan rahmatnya bagi semesta alam
Seluruh kabar gembira maupun peringatan yang akan terjadi di dunia dan kelak di akhirat, telah Rasulullah sampaikan kepada umatnya tanpa cela. Sungguh, aku malu akan keimananku, jika masih menyangsikan segalanya.

Share:

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar :)

NO SPAM! NO SARA!